Mengenal Equity Valuation: Cara Investor Menentukan “Harga Wajar” Saham
Pernah nggak kamu beli sesuatu dan merasa “eh, ini kayaknya kemahalan deh”?
Nah, di dunia saham pun sama — investor selalu ingin tahu apakah harga sebuah saham kemahalan, kemurahan, atau pas-pasan.
Nah, proses untuk mencari “harga wajarnya” itulah yang disebut Equity Valuation.
Apa Itu Equity Valuation?
Secara sederhana, equity valuation adalah cara menghitung berapa seharusnya nilai sebuah perusahaan jika kita melihat dari kinerja dan potensinya.
Kalau kamu ibaratkan perusahaan seperti toko kopi, valuation itu semacam cara menilai:
“Berapa sih harga wajar kalau saya mau beli toko kopi ini, bukan cuma dari rasa kopinya, tapi juga dari keuntungan dan pelanggan tetapnya?”
Investor pakai ini untuk memutuskan:
Apakah saham masih undervalued (murah, layak dibeli),
Atau sudah overvalued (terlalu mahal, lebih baik dijual atau dihindari).
Kenapa Penting untuk Investor Institusi?
Investor institusi (seperti reksa dana, dana pensiun, atau manajer investasi besar) sangat menyukai metode valuasi karena:
Mereka butuh justifikasi.
Setiap keputusan beli/jual bernilai miliaran rupiah, jadi mereka perlu dasar angka yang logis, bukan perasaan.Valuasi membantu komunikasi.
Ketika mereka bicara ke klien atau komite investasi, angka valuation jadi bahasa yang sama untuk semua pihak.Membedakan antara hype dan value.
Di pasar yang penuh rumor dan sentimen, valuation menjaga mereka tetap rasional.
Jenis-Jenis Metode Equity Valuation
Nah, di sinilah menariknya. Ada banyak cara menghitung nilai saham, tapi umumnya bisa dibagi jadi tiga kategori besar.
1. Absolute Valuation (Menilai dari Dalam Perusahaan)
Metode ini fokus pada apa yang dihasilkan oleh perusahaan itu sendiri — laba, arus kas, dividen.
Beberapa metode populernya:
| Metode | Konsep Dasar | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| DCF (Discounted Cash Flow) | Menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan. | Perusahaan stabil dengan proyeksi kas jelas (misal: bank, consumer goods). |
| DDM (Dividend Discount Model) | Menilai saham dari dividen yang akan dibayarkan ke depan. | Perusahaan rutin membayar dividen (misal: BBRI, TLKM). |
| Gordon Growth Model | Versi sederhana dari DDM, dengan asumsi dividen tumbuh konstan selamanya. | Perusahaan mapan dan stabil. |
| NAV (Net Asset Value) | Nilai aset bersih setelah dikurangi kewajiban. | Perusahaan berbasis aset besar (misal: tambang, properti). |
Sederhananya, absolute valuation ini seperti kamu menilai mobil dari mesin, kondisi bodi, dan performanya, bukan karena “trennya lagi keren.”
2. Relative Valuation (Menilai dengan Membandingkan)
Metode ini ibarat kamu bilang:
“Harga mobil A segini, tapi mobil B dengan mesin sama lebih murah, berarti mobil A agak kemahalan.”
Investor membandingkan perusahaan dengan sejenisnya pakai rasio seperti:
| Rasio | Arti | Contoh |
|---|---|---|
| PER (Price to Earnings Ratio) | Harga saham dibanding laba per saham. | Kalau PER 10×, berarti harga = 10 tahun laba. |
| PBV (Price to Book Value) | Harga dibanding nilai buku aset. | PBV < 1 → saham murah, PBV > 2 → mulai mahal. |
| EV/EBITDA | Nilai perusahaan dibanding kemampuan menghasilkan kas operasi. | Populer di kalangan analis institusi. |
Metode ini cepat dan mudah, makanya paling sering dipakai untuk screening saham.
3. Sum-of-the-Parts (SOTP) Valuation
Bayangkan kamu punya konglomerasi yang punya bisnis hotel, tambang, dan e-commerce.
Menilai satu angka untuk semuanya itu susah.
Nah, Sum of the Parts artinya menilai setiap unit bisnis secara terpisah, lalu dijumlahkan.
Ini seperti menilai satu “kotak kado” berisi beberapa barang berharga berbeda — semuanya dihitung dulu satu per satu.
Metode ini sering dipakai oleh analis investasi untuk grup besar seperti Astra, MNC, atau emiten properti dengan banyak anak usaha.
Jadi, Metode Mana yang Terbaik?
Tidak ada satu metode yang paling benar.
Biasanya analis profesional pakai kombinasi dari beberapa metode:
DCF/NAV untuk nilai fundamental jangka panjang.
PER/EV-EBITDA untuk bandingkan dengan kompetitor.
SOTP kalau perusahaan punya banyak lini bisnis.
Investor institusi suka pendekatan ini karena lebih seimbang — tidak hanya melihat angka masa lalu, tapi juga potensi masa depan.
Penutup: Valuasi Itu Bukan Ramalan
Valuation itu seperti kompas, bukan GPS.
Dia tidak memberitahumu di mana kamu berada sekarang, tapi menunjukkan arah yang seharusnya kamu tuju.
Yang penting bukan hanya rumusnya, tapi cara berpikir di baliknya.
Kalau menurut Wajarin :
“Kalau kamu bisa memahami kenapa sesuatu bernilai, kamu tak lagi jadi trader — kamu sudah jadi investor sejati.”